PADANG (2/3/2026) – Ramadan selalu menghadirkan kisah-kisah yang menghangatkan hati, kisah tentang kerja keras yang perlahan berbuah kemuliaan, tentang ketulusan yang tumbuh dalam diam lalu menjelma cahaya, serta tentang bagaimana nilai-nilai keimanan dapat bersemi bahkan dari tempat yang paling sederhana sekalipun.
Di antara kisah itu, terselip perjalanan hidup seorang mubaligh yang suaranya begitu akrab di telinga masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), yaitu Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh. Sosok ini hari ini dikenal luas sebagai penceramah berjiwa budaya dengan gaya penyampaian yang hangat, jenaka, namun sarat hikmah. Ceramah-ceramahnya kerap menjadi halaman rekomendasi (for your page/FYP) di sejumlah aplikasi media sosial.
Tak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan dakwahnya tidak dimulai dari mimbar megah atau ruang akademik, melainkan dari peluh di Pelabuhan Teluk Bayur, tempat ia dahulu memanggul karung-karung berat hasil produksi PT Semen Padang yang dikirim ke berbagai penjuru negeri.
Peluh di Teluk Bayur yang Menempa Keteguhan
Tahun 1974 menjadi titik awal perjalanan panjang itu ketika Ristawardi muda bekerja sebagai buruh angkat semen dengan jam kerja delapan jam sehari, memindahkan karung-karung dari lori ke gudang sebelum dimuat ke kapal. Pekerjaan fisik tersebut menuntut kekuatan, ketahanan, dan kesabaran luar biasa.
Ia masih mengingat bagaimana kerasnya masa-masa itu, ketika tubuhnya terasa kaku setelah bekerja seharian. Untuk sekadar menoleh pun ia harus memutar seluruh badan karena lelah yang begitu menyergap.
“Kalau sudah selesai bekerja, badan rasanya kaku. Dipanggil orang tak bisa menoleh, harus memutar seluruh badan,” kenangnya suatu ketika.
Namun dari kerja keras yang menguras tenaga itulah ia belajar tentang kesabaran, disiplin, dan keteguhan hati, nilai-nilai yang kemudian hari menjelma menjadi fondasi kuat dalam setiap ceramah yang ia sampaikan kepada masyarakat.
Beberapa tahun kemudian, takdir membawanya diangkat menjadi karyawan tetap di PT Semen Padang. Karena tidak memiliki ijazah formal yang tinggi, ia ditempatkan sebagai cleaning service (CS). Sebuah posisi yang bagi sebagian orang mungkin dianggap sederhana, tetapi baginya justru menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh.
Kesempatan yang Mengubah Jalan Hidup
Di tengah kesibukan sebagai pekerja, ia tak pernah meninggalkan kegiatan keagamaan. Ia tetap aktif mengisi pengajian dan pembinaan rohani, sehingga keluwesan berbicara serta kedalaman pesan yang ia sampaikan mulai dikenal di masyarakat dan lingkungan internal perusahaan.
Sebuah peristiwa penting kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat itu ulama senior yang diangkat sebagai penasihat rohani PT Semen Padang, Buya Haji Sayuti Khatab, tengah mendampingi Semen Padang FC ke Thailand. Pada waktu yang sama, seorang pimpinan perusahaan wafat dan Ristawardi diminta menggantikan untuk menyampaikan pidato pelepasan jenazah.
Ia tampil apa adanya, tanpa atribut kebesaran dan tanpa gelar yang disematkan, hanya dengan ketulusan hati dan kefasihan dalam merangkai kata-kata yang menenangkan.
“Usai acara, para pimpinan PT Semen Padang bertanya dengan penuh rasa ingin tahu siapa ustaz tadi. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa sosok yang baru saja menyampaikan tausiah menyentuh itu adalah seorang cleaning service di pabrik PT Semen Padang. Pimpinan kemudian mengatakan saya tidak cocok di pabrik dan harus dipindahkan ke kantor,” ujar Buya Ristawardi.
Sejak momen itulah arah hidupnya berubah secara perlahan namun pasti. Ia kemudian diminta pindah ke kantor untuk membantu bagian Personalia dan pembinaan rohani, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Kepala Urusan Konseling Rohani. Amanah itu ia jalani dengan penuh rasa syukur, karena baginya jabatan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mengabdi lebih luas.
Tumbuh Bersama dan Menjadi Bagian dari Sejarah
Selama 35 tahun mengabdi di PT Semen Padang, Buya Ristawardi tidak sekadar menjadi bagian dari struktur perusahaan, melainkan menjadi penguat spiritual bagi ribuan pekerja yang setiap hari bergelut dengan dinamika industri yang penuh tantangan.
Perusahaan memberikan ruang bagi tumbuhnya nilai-nilai Islam melalui pembinaan rohani, pelatihan mubaligh, hingga kesempatan berhaji yang pernah ia raih sebagai karyawan teladan. Hal tersebut menjadi bentuk apresiasi yang semakin menguatkan komitmennya dalam berdakwah.
Pada tahun 1982 ia resmi menjadi kader mubaligh melalui pelatihan Dewan Masjid. Setahun kemudian namanya mulai dikenal, dan pada 1986 ia telah rutin berceramah di Bukittinggi serta berbagai daerah lainnya.
Dari ruang pabrik hingga mimbar masjid, langkahnya tak pernah terpisah dari identitasnya sebagai bagian dari keluarga besar Semen Padang yang secara konsisten mendukung syiar Islam, bukan hanya dalam seremoni, tetapi melalui pembinaan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Dakwah yang Menyatu dengan Budaya
Lahir di Baso, Bukittinggi, pada 10 Juni 1952, Ristawardi tumbuh dalam kultur Minangkabau yang kuat. Gelar adat “Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh” yang disandangnya menegaskan kedudukannya sebagai tokoh yang dihormati dalam kaumnya.
Dalam setiap ceramahnya, ia merajut ayat dan hadis dengan pepatah-petitih Minang, menghadirkan filosofi “karambia” sebagai simbol keteguhan dan kemanfaatan hidup, serta menjadikan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” sebagai landasan berpikir dan bertindak.
Pendekatan dakwah kultural yang ia jalankan membuat pesan agama terasa dekat, tidak menggurui, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan, baik generasi tua maupun anak muda yang kini banyak menyimak ceramahnya melalui platform digital.
Dukungan PT Semen Padang untuk Dakwah Islam
Buya Ristawardi juga mengingat kembali dukungan PT Semen Padang dalam melahirkan mubaligh-mubaligh di Sumatera Barat. Sekitar tahun 1992, Buya Sayuti Khatab mendatangkan guru yang ahli di bidangnya untuk melatih sejumlah orang agar meningkatkan kompetensi sebagai mubaligh.
Mereka yang mengikuti program tersebut antara lain Zhafrul Jamal, Yohannis, Sensurianus, Warmen Jamil, dan Marwan Bermawi.
“Namanya Pengkaderan Mubaligh. Mereka dilatih retorika dakwah, psikologi dakwah, dan berbagai materi lainnya. Waktu itu kami meminjam Masjid Raya Al Ittihad Indarung sebagai lokasi pelatihan, dengan seluruh biaya disokong oleh PT Semen Padang. Alhamdulillah, PT Semen Padang sangat antusias mendukung pengkaderan mubaligh ini,” ujarnya.
Kebanggaan dan Komitmen Perusahaan
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menyampaikan bahwa perusahaan merasa bangga memiliki sosok pensiunan seperti Buya Ristawardi yang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah panjang perusahaan, tetapi juga menjadi teladan bahwa nilai kerja keras, integritas, dan spiritualitas dapat tumbuh berdampingan dalam lingkungan industri.
Ia menegaskan bahwa PT Semen Padang berkomitmen untuk terus mendukung syiar Islam di Sumatera Barat sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan kultural perusahaan.
Bagi PT Semen Padang, kisah Buya Ristawardi menjadi bukti bahwa ruang kerja dapat menjadi ladang dakwah, bahwa pengabdian profesional dapat berjalan seiring dengan pengabdian keumatan, dan bahwa dari seorang tukang angkat semen pun dapat lahir seorang ulama yang menerangi nagari dengan cahaya keimanan yang tak pernah padam.
Keep reading
More from Hot Release
Hot Release
Kopi Bantjah Tak Lagi Sekadar Biji Kopi, Kini Diolah Jadi Produk Bernilai Tambah
Kopi Bantjah yang dikembangkan masyarakat Koto Baru, Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, kini tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai komoditas perkebunan. Melalui pengembangan berbagai produk turunan, kopi lokal tersebut mulai membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, termasuk perempuan dan generasi muda, dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Semen Padang.
Hot Release
Akademi Jago Bangunan PT Semen Padang Hadir di Bengkulu Selatan, 101 Tukang Ikuti Sertifikasi Kompetensi
Sebanyak 101 tenaga konstruksi di Kabupaten Bengkulu Selatan mengikuti Akademi Jago Bangunan yang digelar PT Semen Padang di Manna Water Park, Manna, Rabu (30/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para tukang untuk memperkuat pengetahuan teknis sekaligus mengikuti proses sertifikasi kompetensi di bidang konstruksi.
Hot Release
Sambut HUT ke-26, FKIKSP Salurkan Bantuan Rp10,23 Juta untuk Panti Asuhan Al Hurul Ain
Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26, Forum Komunikasi Istri Karyawan Semen Padang (FKIKSP) menyalurkan bantuan senilai Rp10.233.860 kepada Panti Asuhan Anak dan Balita Al Hurul Ain, Kota Padang, Jumat (2/10/2026). Bantuan tersebut merupakan hasil lelang amal yang digelar keluarga besar FKIKSP sebagai wujud kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan.